Dunia Distopia #2 – Utopia dalam Literatur: Membayangkan Sebuah Dunia Ideal

Untuk memberikan pemahaman lebih lanjut – Di episode ini kita akan membahas perjalanan literatur dari konsep utopia yang selalu hadir berbarengan dengan distopia seperti yin dan yang.

Di episode sebelumnya, aku sempat nyinggung sedikit tentang utopia. Sebelum aku bahas pun, aku yakin kalian juga pasti pernah denger tentang utopia sendiri ataupun punya ide tersendiri tentang utopia.

Tapi apa sih sebenernya utopia itu?

Kata utopia pertama kali digunakan oleh Thomas More yang akhirnya memberikan genre ini sebuah nama. Utopia sendiri berasal dari bahasa Yunani eu-topos yang berarti no place atau good place. Yang kemudian didefenisikan dalam kamus modern sebagai tempat sistem atau dunia hipotetikal dimana semuanya sempurna terutama dari struktur sosial hukum dan politik.

Nah meskipun Thomas More berhasil memberi genre ini sebuah nama, ada banyak literatur Utopis sebelum More sendiri.

Utopia Plato "Kallipolis"

Salah satu yang paling mainstream oleh filsuf Plato dengan Republik. Dalam Republik melalui pembicaraan dengan Socrates, Plato menggambarkan sebuah ideal state yang dia sebut Kallipolis untuk menjawab satu pertanyaan filosofis what would a society be like, where everyone lived a good life?

Dalam Kallipolis ada pembagian kelas. Kelas pertama yaitu guardians, kelompok elit yang berisikan pemimpin atau philosopher kings yang menjadi kelas tertinggi dalam Kallipolis. Mereka adalah penguasa yang dinilai harus berwawasan dan mampu memprioritaskan negara sebelum dirinya sendiri.

Kemudian ada auxiliaries yang menjadi kekuatan militer dimana dicirikan dengan kekuatan fisik.

Yang terakhir yaitu produser seperti petani dan pengrajin yang menghasilkan bahan makanan ataupun barang dan jasa yang penting untuk kota ini.

Dalam kallipolis, meskipun ada pembagian kelas Plato berpendapat bahwa tidak ada yang lebih penting daripada yang lain. Karena semua memiliki kontribusinya dalam membangun dan menunjang kota ini.

Tapi tidak semua orang dapat menerima pembagian kelas Socrates sadar akan ini dan menawarkan suatu fabrikasi yang dikenal sebagai “myth of the metals” sebagai cara untuk membuat orang menerima status mereka.

Apa myth of the metals sendiri?

Socrates menggambarkan dimana ketika Tuhan menciptakan manusia, dia akan mencampurkan tipe metal guardians dengan emas, silver untuk auxiliaries, dan besi dan tembaga untuk produser. Tergantung pada metal apa yang diberikan Tuhan padamu – ini adalah tempatmu di masyarakat.

Selain Republik, Plato juga sempat membahas Atlantis – dunia utopis yang aku yakin banget kalian udah pernah denger. Atlantis dimana tanah subur dan penuh dengan makanan dan satwa liar yang dipenuhi kekayaan material, kekuatan, dan keharmonisan batin. Mereka adalah masyarakat berpengetahuan terutama dalam arsitektur dan engineering. Kebanyakan orang percaya bahwa kisah Atlantis hanyalah legenda tetapi beberapa mengatakan itu adalah tempat nyata yang dihancurkan oleh banjir dan gempa bumi.

Pusat spiritual Atlantis adalah Kuil Poseidon. Di sini para petinggi negara berkumpul untuk menyusun undang-undang mereka. Kuil itu merupakan demonstrasi yang menakjubkan dari kemampuan Atlantis dalam memproses logam. Dikelilingi oleh dinding emas dan ditutupi dengan perak, langit-langitnya terbuat dari gading yang dihiasi dengan emas, perak dan kuningan.

Diatur dengan kebijaksanaan orang-orang Atlantis menjalani kehidupan yang harmonis. Bagi banyak generasi, seperti yang dinyatakan Plato, emosi mereka penuh dengan kebaikan, integritas, dan moralitas. 

Plato sendiri mendengar tentang hilangnya peradaban Atlantis dari seorang kerabat bernama Solon. Plato mengatakan bahwa Solon mengunjungi Mesir sekitar 600 SM, di mana ia belajar tentang Atlantis dari para imam di Kuil Sais.

Terlepas dari pentingnya Atlantis dalam karya Plato, kisah Atlantis memiliki dampak yang cukup besar pada sastra. Aspek alegoris Atlantis diambil dalam karya utopis dari beberapa penulis Renaissance, seperti New Atlantis karya Francis Bacon dan Thomas More’s Utopia.

Di sisi lain, para ahli abad kesembilan belas salah menafsirkan narasi Plato sebagai tradisi sejarah, terutama dalam Atlantis Ignatius L. Donnelly: The Antediluvian World. Sebagai akibatnya, Atlantis telah menjadi buah bibir bagi setiap dan semua peradaban prasejarah yang hilang dan terus menginspirasi fiksi kontemporer, dari buku komik hingga film seperti Aquaman, Journey to the Center of the Earth, Saint Seiya sampai Spongebob.

Selain Plato, Christine de Pizan juga menggambarkan dunia ideal dalam The Book of the City of Ladies.

Utopia the book of the city of ladies

Buku ini terpusat pada percakapan antara Christine dan Reason, Rectiture dan Justice sebagai sifat-sifat yang terpersonafikasi. Satu persatu dari mereka meluruskan prasangka misoginis dan lepada Christine mereka menceritakan kisah-kisah tentang para pejuang, gubernur, dan cendekiawan Yunani, Romawi, Yahudi, dan Kristen terkemuka.

Seperti Xanthippe, istri muda Socrates, dan istri Seneca, yang meneriakkan kata-kata kotor pada Nero, yang telah membunuh suaminya, dengan harapan bahwa dia juga akan membunuhnya.

Buku ini menceritakan wanita-wanita hebat seperti pencetus alfabet Latin adalah seorang wanita, juga penemu pertanian, menciptakan alat komunikasi global, memungkinkan orang untuk saling menulis di seluruh dunia.

Tiga persona tersebut kemudian membantu Christine membangun fondasi dan bangunan, serta memilih wanita yang akan tinggal di kota yang berisikan wanita. Setiap wanita yang dipilih oleh Virtues untuk tinggal di kota bertindak sebagai contoh positif bagi wanita lain untuk diikuti.

Wanita-wanita ini juga merupakan contoh pengaruh positif yang dimiliki wanita terhadap masyarakat. Buku ini membela pencapaian wanita selama berabad-abad dan mendirikan kota simbolis yang dihuni oleh wanita, sebuah kota yang dimaksudkan untuk menjadi tempat perlindungan dari patriarki.

Namun seperti distopia, utopia juga memiliki pandangan berbeda-beda – bukan hanya sistem yang teratur dan harmonis, namun juga dunia tanpa sistem.

Ini yang digambarkan pada The Land of Cockaygne di pertengahan abad ke-14. Sebuah utopia yang dibuat oleh para petani abad pertengahan dan disampaikan dalam Puisi Kildare, disusun sekitar tahun 1330 di Irlandia dan dibayangkan oleh Pieter Brueghel the Elder dalam lukisan tahun 1567, Cockaygne adalah negeri yang tidak memiliki pekerjaan, kesetaraan antara pria dan wanita dan tidak ada figur otoritas.

Utopia The Land of Cockaygne

Cockaygne menjadi tempat fiksional sebagai parodi dari surga / Dimana menggambarkan surga Kristen sebagai utopia sangat membosankan dengan tidak ada apa-apa selain buah dan orang suci. Tanpa alkohol. Tidak ada kuda, babi, atau hewan peliharaan lainnya. Tidak ada malam, tidak ada badai, dan tidak ada yang mati. Sungai-sungai mengalir dengan minyak, susu, madu, dan anggur, dan satu baris dalam puisi itu bahkan mengatakan bahwa satu-satunya kegunaan air adalah mandi. 

Di Cockaygne digambarkan dunia penuh dengan luxury dan kenikmatan fisik di mana semua batasan masyarakat dilanggar (kepala biara dipukuli oleh biksu mereka), kebebasan seksual terbuka (biarawati dibalik untuk menunjukkan bagian bawah tubuh mereka), dan makanan berlimpah (langit yang hujan keju).

Bagaimana Utopia menurut Thomas More sendiri? Yang memberikan nama terhadap genre ini.

Dalam Utopia Thomas More, hukum dan kebiasaan disana bukan meruapakan ide orisinil; kebanyakan dari konsep-konsep dalam Utopia More dipenuhi dengan satir terhadap kondisi Inggris pada zamannya ataupun meminjam ide-ide pada literatur sebelumnya.

Karya ini dimulai dengan Thomas More dan beberapa orang yang ditemuinya Peter Gilles, juru tulis kota Antwerp, dan Hieronymus van Busleyden, penasihat Charles V. More yang saling bertukar surat. Surat-surat itu juga menjelaskan perjalanan ke Utopia; dan mengikuti Raphael Hythlodaeus, yang diperkenalkan ke More di Antwerpen.

Diskusi pertama Raphael membicarakan tantangan yang dihadapi Eropa saat itu seperti kecenderungan raja untuk memulai perang dan hilangnya uang untuk usaha yang sia-sia dengan sistem politik yang tidak adil dan membuat rakyat miskin sengsara kaum elit yang semakin kaya dengan monopoli-monopoli ekonomi.

Banyak yang mencoba meyakinkan Raphael bahwa ia dapat menemukan pekerjaan yang bagus di pengadilan kerajaan, sebagai penasehat raja, tetapi Raphael mengatakan bahwa pandangannya terlalu radikal dan tidak akan didengarkan. 

Kemudian di buku kedua – Karakternya Raphael dan More mendiskusikan Utopia. Dimana ditunjukan sebagai upaya utopis yang berhasil diwujudkan.

Utopia ditempatkan di Dunia Baru dimana Raphael kemudian melakukan perjalanan dan menemukan Pulau Utopia, tempat ia menghabiskan waktu lima tahun untuk mengamati adat istiadat penduduk asli.

Pulau ini awalnya adalah semenanjung tetapi saluran selebar 15 mil digali oleh pendiri Utopia King Utopos untuk memisahkannya dari daratan. Pulau itu berisi 54 kota. Setiap kota dibagi menjadi empat bagian yang sama. Ibukotanya, Amaurot, terletak tepat di tengah pulau.

Setiap kota tidak memiliki lebih dari 6000 rumah tangga, setiap keluarga terdiri dari 10 sampai 16 orang dewasa. Tiga puluh rumah tangga dikelompokkan bersama dan memilih Syphograntus. Setiap sepuluh Syphogranti memiliki Traniborus terpilih yang berkuasa atas mereka. Nantinya tiap 200 Syphogranti dari sebuah kota memilih seorang Pangeran dalam pemungutan suara rahasia. Pangeran akan berperan sebagai walikota akan memerintah seumur hidup kecuali dia digulingkan apabila dicurigai sebagai pemimpin yang tiran.

Orang-orang didistribusikan di tiap household dan kota-kota dijaga agar populasinya tetap sama. Jika pulau ini mengalami kelebihan populasi, akan dibuat koloni di pulau asing. Dalam kasus di kekurangan populasi, koloni tersebut akan diperintahkan untuk kembali. Atau, penduduk asli di daratan diundang untuk menjadi bagian dari koloni Utopis ini, tetapi jika mereka tidak menyukainya dan tidak ingin tinggal disitu, mereka dapat kembali. 

Tidak ada properti pribadi di Utopia, dengan barang disimpan di gudang dan orang-orang dapat meminjam apa yang mereka butuhkan. Juga tidak ada kunci di pintu-pintu rumah, dan rumah-rumah itu dirotasi antara warga setiap sepuluh tahun. 

Pertanian menjadi pekerjaan paling penting di pulau ini. Setiap orang diajarkan bertani dan wajib hidup di pedesaan untuk bertani selama dua tahun, dengan wanita melakukan pekerjaan yang sama dengan pria.

Sejalan dengan ini, setiap warga negara harus belajar setidaknya satu keterampilan perdagangan seperti: menenun, pertukangan kayu dan mengasah logam. Ada kesederhanaan yang disengaja tentang model ini; misalnya, semua orang memakai jenis pakaian sederhana yang sama dan tidak ada pembuat pakaian yang membuat pakaian bagus. 

Perbudakan adalah fitur kehidupan utopis / dimana setiap rumah memiliki dua budak. Para budak ini berasal dari negara lain atau kriminal. Para kiriminal ini mengenakan rantai yang terbuat dari emas.

Dimana meskipun di dunia modern emas dianggap prestis ini dibuat sebagai simbol buruk di utopia. Emas menjadi bagian dari kekayaan masyarakat di negara itu dan dengan mengikat para penjahat dengan emas menjadi simbol yang memalukan. Dengan melimpahnya emas, utopia tidak menggapnya sebagai hal yang istimewa dan hanya digunakan untuk membeli komoditas dari negara asing atau menyuap negara-negara lain untuk saling berperang.

Inovasi penting Utopia lainnya juga termasuk: rumah sakit gratis, eutanasia diizinkan oleh negara, pastor dan figur agama diizinkan menikah, perceraian diizinkan, seks pranikah dihukum seumur hidup dengan hidup sendirian dan perzinaan dihukum dengan perbudakan. 

Makanan diambil dari ruang makan komunal dan memberi makan ditugaskan kepada rumah tangga yang berbeda secara bergantian. Meskipun semua diberi makan yang sama, Raphael menjelaskan bahwa tetua dan administrator lebih diprioritaskan. 

Perjalanan di pulau itu hanya diizinkan dengan paspor internal dan setiap orang yang ditemukan tanpa paspor dikembalikan dengan tidak hormat, tetapi setelah pelanggaran kedua mereka akan diperbudak. Selain itu, tidak ada pengacara dan undang-undang dibuat dengan sangat sederhana, karena semua harus memahaminya dan tidak boleh ada celah tentang apa yang benar dan salah.

Ada beberapa agama di pulau itu: penyembah bulan, matahari, planet, leluhur dan monoteis, tetapi masing-masing toleran terhadap yang lain. Toleransi terhadap semua gagasan keagamaan lainnya diabadikan dalam doa universal yang dilafalkan semua orang Utopia.

Meskipun diizinkan, ateis dianggap aneh karena mereka dianggap mewakili ide-ide yang mengancam harmoni masyarakat. Mereka tidak akan dibuang ataupun dihukum, tetapi didorong untuk berdiskusi dengan tokoh agama sampai mereka yakin bahwa menjadi ateis adalah kesalahan. 

Suami dan istri setara. Istri tunduk pada suami mereka dan suami tunduk pada istri mereka meskipun perempuan diarahkan untuk melakukan tugas rumah. Semua wanita dilatih dalam seni militer, dan berjudi, berburu, merias wajah, dan astrologi tidak dianjurkan. 

Orang utopia tidak menyukai perang. Jika mereka merasa negara-negara yang bersahabat dengan mereka telah diserang, mereka akan mengirim bantuan militer, tetapi mereka mencoba untuk menangkap daripada membunuh musuh. Karena mereka tidak menyukai ide pertumpahan darah. 

Dalam dunia Utopia More, dapat dilihat sejumlah ide-ide radikal baik untuk pembaca pada zaman itu maupun sekarang. Sir Thomas More yang dengan berani mengkritik kepemilikan pribadi dan struktur sosial yang hanya menguntungkan kaum elit serta secara terbuka mengadvokasi komunisme dalam bukunya.

Dua alasan utama mengapa kota ini sukses mencapai utopianya yaitu mereka dapat membangun kontrol atas populasi dan pada saat yang sama menjaga masyarakat bahagia dan proaktif dalam kesehariannya.

Bagaimana More Utopia melakukannya?

Kontrol atas populasi dilakukan dengan mengendalikan kematian sedangkan menjaga masyarakat bahagia dilakukan dengan mereformasi budaya, agama dan kepercayaan sosial yang mendukung kebahagian kolektif dibandingkan dengan individu.

Dengan kata lain, menciptakan sistem yang mampu mengendalikan masyarakat tanpa terlihat opresif agar fungsi-fungsi pemerintahan berjalan mulus tanpa disebut pemerintah otoriter.

Yang membawa kita ke diskusi berikutnya

Setelah membahas beberapa gambaran Utopia berdasarkan literatur-literatur terkenal ada satu pertanyaan yang muncul:

Apakah benar utopia adalah dunia yang ideal?
ataukah sebenarnya itu hanya distopia yang belum terungkap?

Dalam More Utopia dengan pemerintah totaliter, perbudakan, terbatasnya kebebasan bergerak, pemimpin seumur hidup, dan hilangnya privasi secara gamblang menggambarkan distopia. Apalagi untuk kita milenial, mungkin bukan dunia yang ingin kita tinggali dan terdengar sangat distopis.

Ini mengapa pada fiksi distopia juga digambarkan dunia yang tampak harmonis dapat menjadi pisau bermata dua – membuat individu kehilangan identitas dan kebebasannya.

Kebebasan berpikir dan beraktivitas, privasi yang dibatasi, dan tiap orang harus memprioritaskan kontribusinya untuk kebaikan negara ataupun kelas-kelas atas. Memberikan satu pertanyaan fundamental: apakah individualitas kita layak dikorbankan untuk mencapai utopia?

Serupa dengan More dalam Plato Kallipolis. Dengan sistem kelas yang ketat dan pemerintahan yang memanipulasi masyarakatnya ini terdengar seperti buku-buku distopia seperti Brave New World. Dimana masyarakat dibagi dalam stratafikasi kelas dengan satu kelas lebih superior dari kelas dibawahnya ataupun di 1984 dimana pemerintah memfabrikasi kebenaran dan mensensor seni ataupun pesan yang berlawanan dengan keinginan pemerintahnya.

Di sisi lain, benar secara teori fiksi utopia sangat baik tapi apabila ini diaplikasikan di dunia nyata ini tidak dapat bekerja sebagaimana yang dibayangkan. Bukan bermaksud pesimis, namun kenyataannya kekuasaan yang diberikan pada elitis dapat selalu disalahgunakan.

Sistem kelas yang awalnya digunakan untuk membangun suatu kesatuan harmonis maupun sensor yang seharusnya menjaga keadilan dapat menjadi aspek yang mengontrol masyarakat dan myth of the metal ataupun propaganda lainnya dapat digunakan untuk mempertahankan kekuasaan elitis.

Terlebih lagi, tidak bisa kita pungkiri ada sifat-sifat manusia dengan kerakusan dan keinginan kekuasaan, membuat sistem ini selalu dapat keluar dari maksud baiknya.

Akhirnya utopia pun, juga mempunyai sisi gelapnya. Dengan demikian, utopia dan distopia tidak bisa dipisahkan.

Ini dibenarkan dengan apa yang terjadi di abad 20, ketika manusia yang tidak sempurna mencoba kesempurnaan – baik secara pribadi, politik, ekonomi, dan sosial – mereka akan gagal. Dengan eksperimen sosial yang gagal dan rezim politik yang represif.

Inilah yang terjadi dalam idelogi sosialis Marxis Leninis, Stalinis Rusia (1917-1989), Fasis Italia (1922-1943), dan Nazi Jerman (1933-1945), semuanya upaya besar-besaran untuk mencapai kesempurnaan politik, ekonomi, sosial, dan bahkan rasial, mengakibatkan puluhan juta orang terbunuh oleh negara mereka sendiri atau terbunuh dalam konflik dengan negara-negara lain yang dianggap menghalangi jalan menuju surga.

Dan di akhir abad ke-20, Marxisme revolusioner di Kamboja, Korea Utara, dan banyak negara di Amerika Selatan dan Afrika menyebabkan pembunuhan, pogrom, genosida, pembersihan etnis, revolusi, perang saudara, dan konflik yang dimulai negara, semuanya ada di nama membangun surga di Bumi yang membutuhkan penghapusan ‘pembangkang’.

Diperkirakan 94 juta orang tewas di tangan Marxis revolusioner dan komunis utopis di Rusia, Cina, Korea Utara, dan negara-negara lain, jumlah yang mengejutkan dibandingkan dengan 28 juta yang terbunuh oleh kaum fasis. 

Pada akhirnya fiksi Utopia memberikan kita sejumlah pertimbangan dan angan-angan – mungkin kalian punya persepsi berbeda dengan literatur yang aku bahas sebelumnya mengenai dunia atau kondisi ideal menurutmu. karena ya apa yang ideal untuk aku pasti akan berbeda dengan kamu.

Mungkin ada yang membayangkan Utopia dimana kalian tidak harus bekerja dan semua orang setara ataupun dunia dipenuhi boba dan semua teknologi canggih seperti doraemon.

Gimana? Kamu tertarik untuk membahas distopia ataupun utopia lebih lanjut?

This image has an empty alt attribute; its file name is DUNIA-1024x1024.png

Subcribe ke Dunia Distopia untuk membahas lebih dalam karya-karya Distopia di budaya populer. Karya-karya yang udah aku mentioned sebelumnya dari reviewnya, analisis dan konsep distopia yang diangkat.

Dunia Distopia merupakan bagian dari Waves, platform untuk audio dari podcast, audiobooks sampai audio learning dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal di Asia Tenggara.


Dibawakan oleh Chantique Putri, literature and dystopian enthusiast. Ikuti lebih lanjut Dunia Distopia di social medianya fb.me/duniadistopia dan instagram.com/duniadistopia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of