Dunia Distopia #1 – Distopia 101

Kalian pernah ga sih baca berita, post sosial media atau nonton teori-teori konspirasi di Youtube dan kepikiran kalau scene ini pernah kalian tonton di suatu film atau novel yang kalian baca. Ini banyak terjadi sekarang. Di China, misalnya, dengan surveillance dan Social Credit System mengingatkan kita akan novel distopia oleh George Orwell ‘1984’ serupa dengan konsep Big Brother dimana pemerintah mengetahui apapun aktivitas masyrakatnya.

Ataupun climate change, yang semakin mengancam keberadaan manusia tapi masih banyak yang menganggapnya hoax – bahkan, presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menganggap kalau climate change ini hanya hoax yang disebarkan oleh China.

Tidak bisa dipungkiri lagi, dunia kita semakin suram dan kita semakin paranoid dengan apa yang terjadi di masa depan. Ini membuat distopia bukan menjadi paranoia belaka dan imajinasi semata – tapi menjadi kekhawatiran yang terealisasikan dan benar terjadi sekarang ini 

Selamat datang di podcast Dunia Distopia dengan aku Chantique Putri. Di podcast ini kita akan membahas segala sesuatu tentang konsep distopia dari teori-teorinya sampai karya-karya yang mengangkat latar belakang distopia dari film, tv series, novel, karya musik hingga kejadian-kejadian distopia yang terjadi di dunia nyata.

Nah di episode pertama ini, kita akan membahas terlebih dahulu apa sih distopia itu – dari awal kemunculannya hingga tema-tema umum yang biasanya diangkat dalam karya fiksi distopia. 

Utopia - Sir Thomas More
Utopia – Sir Thomas More

Untuk memahami apa itu distopia, kita pertama harus mengenal dulu utopia. Utopia digambarkan sebagai dunia yang ideal tanpa kejahatan, kekerasan dan kemiskinan. Konsep ini diprakarsai oleh Sir Thomas More pada buku berjudul Utopia yang dirilis tahun 1615.

Dulunya ada banyak peradaban dan pemerintahan yang memimpikan utopia ini namun seiring berjalannya waktu dengan perang, opresi, wabah penyakit dan kelaparan – ini memunculkan kritik terhadap janji-janji yang diumbar dalam Utopia sendiri – terutama dengan terjadinya Revolusi Prancis pada awal abad ke-19, dimana pemerintahan mulai condong totaliter dan fasis.

Sehingga literatur-literatur distopia muncul sebagai tanggapan terhadap fiksi utopis dan mengeluarkan peringatan-peringatan baik untuk pembacanya maupun pemerintah.

Dengan memadukan unsur satir, dehumanisasi, pemerintahan otoriter atau tirani ataupun bencana alam atau kejadian budaya sosial yang terus memperkeruk kehidupan masyarakat. 

Gulliver's Travel distopia

Salah satu karya distopia paling awal adalah novel Gulliver’s Travel oleh Jonathan Swift. Novel ini kemudian menjadi blueprint dari fiksi genre dystopia. Mengikuti perjalanan Gulliver yang terdampar di pulau yang utopis namun terjadi banyak kejanggalan: pembagian kelas, hilangnya simpati dari masyarakat kelas atas ke kelas bawah dan seterusnya.

Salah satu karya paling awal yang dianggap sebagai pelopor sastra distopia adalah distopia teknologi oleh EM Forster dengan The Machine Stops. Dimana digambarkan bumi tidak layak ditinggali dan manusia tinggal dibawah tanah dan semua kebutuhan spiritual dan fisik manusia dipenuhi oleh omnipotent global macine. 

Setelah Forster dengan The Machine Stop, lebih banyak literatur distopia yang muncul terutama pada awal abad ke-20. Dengan terjadi kekerasan politik, perang dunia, krisis ekonomi, imperialisme dan penjajajan – membuat banyak penulis menuangkan keresahannya dalam bentuk novel fiksi.

Salah satunya Jack London dengan novel Iron Heel menajdi suatu ramalan akan tensi yang terjadi pada World War I ataupun Yevgeny Zamyatin seorang penulis Rusia dengan novelnya We dimana dunia masa depan hidup harmonis tapi dibawah pemerintahan yang sangat totaliter. Dua karya awal ini diangkat sebagai pelopor satirical futuristic dystopia yang menggambarkan bagaimana free will adalah sumber ketidakbahagiaan manusia dan sebaiknya warga ataupun masyarakat harus dikendalikan oleh pemerintah.

Buku-buku ini juga yang kemudian menginsprasi penulis besar dalam genre distopia seperti Orwell dan Huxley.

Konsep distopia ini juga bisa diangkat dari perspektif yang berbeda-beda – jadi bukan cuman dari segi pemerintahan tapi juga dari segi ekonomi, lingkungan fisik, identitas, agama hingga teknologi dan sains.

Dalam distopia politik, seringkali dipenuhi dengan pandangan pesimis tentang penguasa dan pemerintah yang brutal atau tidak peduli sama sekali dengan masyarakatnya – memerintah dengan “tangan besi” bak rezim fasis atau diktator.

Fiksi dengan pemerintahan dystopia juga sering memiliki protagonis atau kelompok yang memimpin “perlawanan” untuk melakukan perubahan dalam masyarakat mereka, seperti yang terlihat dalam V Alan Vendetta karya Alan Moore. Situasi politik Distopia digambarkan dalam novel-novel lain seperti We, Parable of the Sower, Darkness at Noon, Nineteen Eighty-Four, Brave New World, The Hunger Games, Divergent dan Fahrenheit 451 dan film-film seperti Metropolis, Brasil, Battle Royale, Soylent Green, Logan Run, dan The Running Man.

Seperti di buku The Hunger Games, dimana Katniss Everdeen bangkit melawan Capitol. Ataupun H.G. Wells dalam When the Sleeper Wakes – buku ini digambarkan pemerintah yang hedonis dan dangkal. Tokoh utamanya Graham tertidur selama 203 tahun dan terbangun pada tahun 2100 di London yang berubah drastis. Ketika dia terbangun, dia menjadi orang terkaya di dunia atas manipulasi pemerintah yang mencuci uang melalui Graham. Namun, pemerintah was was dengan Graham terbangun dan mencoba membungkamnya.

Image result for when the sleeper wakes

Graham nantinya akan bergabung dengan gerakan pemberontakan oleh ajakan Ostrog dan memimpin mereka. Tapi ternyata, revolusi yang berhasil itu tidak membuahkan apa-apa untuk masyarakat kecil dan ternyata Ostrog memanipulasi Graham.

Tema besar yang diambil dari dua buku ini seputar sosialisme, penghianatan dalam revolusi dan bagaimana kaum elit memanipulasi masyarakat dengan opresi, juga penggunaan teknologi untuk mengontrol mereka.

Jack London juga mengapproach distopia politik dengan The Iron Heel dimana pemerintah menjadi brutal dan terbentuk suatu oligarki di Amerika. Oligarki ini terbentuk oleh monopoli ekonomi dengan membuat bisnis kecil dan menengah bangkrut. Masyarakat dibagi-bagi dalam kelas buruh dan mercenary yang menjadi kekuatan militer.

Dari segi ekonomi, struktur ekonomi masyarakat distopia memiliki banyak variasi, karena ekonomi sering berhubungan langsung dengan unsur-unsur yang digambarkan penulis sebagai sumber penindasan. Ada beberapa tipe yang cenderung diikuti oleh fiksi semacam itu. Temanya berupa dikotomi ekonomi terencana vs ekonomi pasar bebas, konflik yang ditemukan dalam karya-karya seperti Ayn Rand dalam Anthem dan cerita pendek Henry Kuttner The Iron Standard. 

Beberapa dystopia, seperti Nineteen Eighty-Four, menonjolkan black market dengan barang-barang yang berbahaya dan sulit diperoleh atau karakter-karakternya mungkin bergantung pada ekonomi yang dikendalikan negara.

Kurt Vonnegut dengan Piano Player menggambarkan distopia di mana sistem ekonomi yang dikendalikan oleh pusat memang membuat kelimpahan materi tetapi mengurangi massa manusia dari meaningful work; hampir semua pekerjaan itu kasar, tidak memuaskan dan hanya sebagian kecil dari kelompok kecil yang mencapai pendidikan diterima oleh elit dan pekerjaannya.

Dalam film Tanith Lee, Don’t Bite the Sun, tidak ada keinginan apa pun – hanya konsumsi dan hedonisme, yang mendorong protagonis untuk mulai mencari makna yang lebih dalam untuk keberadaan. Bahkan dalam dystopia kadang sistem ekonomi bukanlah sumber dari kelemahan masyarakat, seperti di Brave New World, tapi malah negara mengendalikan ekonomi dan pekerjaan.

Sedangkan dalam Brave New World, digambarkan dunia futuristik dengan manusia hasil rekayasa biologis dengan strata sosial berdasarkan intelejen. Berbeda dengan 1984, pemerintahan dalam BNW menekankan pleasures seperti psykadelik dan seks untuk mengontrol masyarakatnya

Huxley dan Orwell dua tokoh besar genre Distopia

Fiksi ini memliki banyak kesamaan dan perbedaan dengan Orwell 1984. Kedua penulis mengkhawatirkan masa depan akan dibentuk oleh sejanta pemusnah masal – biologis dan kimiawi dalam Huxley dan perang nuklir dalam Orwell. Mereka juga mengilustrasikan risiko dari stratafikasi sosial, dimana kemanusiaan dibagi dalam kategori-kategori tertentu berdasarkan rekayasa biologi dan conditioning psikologis, ataupun kelas tradisional yang tergabung sistem loyalitas terhadap pemerintahan totaliter. 

Karya-karya lain menampilkan privatisasi dan kapitalisme yang luas; konsekuensi dari kapitalisme, di mana perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki secara pribadi dan tidak bertanggung jawab telah menggantikan pemerintah dalam menetapkan kebijakan dan membuat keputusan.

Mereka memanipulasi, menyusup, mengontrol, menyuap, dilobi dan malah korporat menambil berfungsi sebagai pemerintah. Ini terlihat dalam novel Jennifer Government dan Oryx and Crake dan film Alien, Avatar, RoboCop, Visioneers, Idiocracy, Soylent Green, THX 1138, WALL-E dan Rollerball. 

Beberapa fiksi distopia, seperti Brave New World dan Fahrenheit 451, juga menggambarkan bagaimana keluarga bukan menjadi konsep yang relevan. Dalam Brave New World, di mana anak-anak direproduksi secara artifisial, konsep “ibu” dan “ayah” dianggap sebagai sesuatu yang aneh.

Dalam Brave New World, Lenina yang mengandung secara alami malu untuk kembali ke London, dan anaknya John salah satu tokoh utama dari Brave New World ketika bertemu kembali dengan ayah biologisnya Direktur dari World States malah membuat Direktur ini dicemooh, ditertawakan dan malu hingga akhirnya dia berhenti dari posisinya. 

Dalam beberapa novel, negara malah memusuhi ibu; di Nineteen Eighty-Four, anak-anak diorganisasi untuk memata-matai orang tua mereka dan di We, oleh Yevgeny Zamyatin, pelarian seorang wanita hamil dari suatu negara malah dianggap pemberontakan. 

Banyak malah perspektif dari distopia yang bersinggungan dengan hal-hal yang kita temui sehari-hari dari lingkungan, identitas, agama, kepercayaan sampai teknologi. Klaim-klaim seperti teknologi mencerminkan dan mendorong aspek terburuk dari sifat manusia seperti yang kita lihat di Black Mirror; merusak komunikasi antarpribadi, hubungan, dan komunitas kita ya di seperti sehari-hari dimana muncul etimologi generasi nunduk; dan masih banyak lagi. Malah kalau kalian lihat, ini relevan banget sama kehidupan kita sekarang dan mungkin distopia bukan lagi paranoia tapi ketakutan yang benar terjadi. 

Tapi ya memang ada sisi gelap dari konsep distopia sendiri. Meskipun genre ini diperuntukan untuk menyampaikan ketakutan dan konsumsi pembaca/penonton, banyak yang percaya kalau konsep distopia sendiri malah menakut-nakuti masyarakat. Karena memberikan banyak skenario yang memang menakutkan. Alih-alih memberikan harapan untuk masa depan, ini malah membuat orang khawatir. 

Gimana? Kamu tertarik untuk membahas distopia lebih lanjut?

Subcribe ke Dunia Distopia untuk membahas lebih dalam karya-karya Distopia di budaya populer. Karya-karya yang udah aku mentioned sebelumnya dari reviewnya, analisis dan konsep distopia yang diangkat.

Dunia Distopia merupakan bagian dari Waves, platform untuk audio dari podcast, audiobooks sampai audio learning dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal di Asia Tenggara.


Dibawakan oleh Chantique Putri, literature and dystopian enthusiast. Ikuti lebih lanjut Dunia Distopia di social medianya fb.me/duniadistopia dan instagram.com/duniadistopia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of